Hadeh.. Kemana aja, dengan
siapa, semalam berbuat apa YOLANDAAAA...!!! Waduh kayak lagu aja. Klo gak salah
lagunya Simple Plan *hening*. Rasanya udah berbulan-bulan cerita gue gak di
update. Gue aja dah lupa awal ceritanya kayak apa, yang di tau cuman "absurd".
#LANJUTKAN
*Cerita sebelumnya, kami
yang saat itu dilanda kebimbangan dan memasang keegoisan untuk yang terdepan
tan pa sempat berfikir jernih dengan kepusan yang semestinya harus diambil.
*Disuatu tempat yang disebut
latar…
Dilatar ini seperti soal-soal pilihan ganda yang
cuman ada dua pilihan jawaban, yang diantara kedua jawaban itu belum tentu
benar ataupun salah. Nah, kenapa bisa begitu.. Misalnya saja saja kami memilih
jalan yang benar (udah kayak mau tobat aja) tapi klo masih dipimpin oleh
orang-orang yang seakan-akan tau jalan gue mah tetep haqul yakin endingnye
tetep “SESAT”. Selang berapa lama hal yang tak diinginkan seonggok umat manusia
ditempat itu pun terjadi, apa itu??? Sosok yang dicerita sebelumnye gue bilang
cool (gue gak bakal sebut klo dia itu Andre), tiba-tiba naik ke atas batu
ginjal wkwk.. Berpidato dengan meminjam sedikit kharisma pak Soekarno berkata
“Kawan-kawan, puncak yang yang dari kemarin kita bahas sekarang ada diujung pelupuk
mata ane.. Jadi bersiaplah kita mendaki jalan yang disana”, sembari menunjuk
jalan setapak kecil yang menurut gue itu udeh mirip tanjakan cinta ala ranum
kumbolo tapi bedanya klo di ranum kumbolo kiri-kanan banyak hamparan rumput klo
yang ini malah kiri-kanan semak belukar yang kesannya malah angker. Setelah tak
ada pilihan lain selain pilihannya Andre, sebab semua berkesan diatur oleh-Nya
bahwa ini takdir jalan yang harus kami pilih. Pasukan kali ini dipimpin
langsung oleh gue, sebab gue gak mau klo langkah kaki berkesan lamban soalnya
perhitungan matahari sore sudah mulai meninggalkan kami dan udara dingin yang
mulai menyusup mengharuskan kami untuk memaksakan kaki yang akan berjalan lebih
jauh dari biasanya (ehh, kayak pernah tau kata-kata ini! Ahh, sudahlah).
Melangkah, malangkah dan terus melangkah, itu yang terus kami lakukan sampai kami
pun dapat mempertanggung jawabkan usaha kami semua dan saat itu sudah berada
ditengah2 puncak gunung yang emejing beud (banget). Kita berenam yang
menciptakan kobaran semangat yang kami bawa saat awal melangkah mulai agak
luntur sesaat rintik hujan kembali menerpa kobaran semangat kami. Gue yang saat
itupun masih berposisi memimpin kumpulan pemuda yang ngidam pengen bersahabat
dengan Mahaderman memutuskan untuk beristirahat sejenak dan memikirkan langkah
selanjutnya sembari menatap indahnya saat tenggelam sang surya yang sedikit
tertutup awan diufuk barat seakan memberikan senyum terakhirnya dihari itu.
Masih nampak dedaunan yang basah sesaat sesudah diguyur rintik gerimis tadi.
YOSHHH!!!, kata itu pun tiba-tiba terlontar dari mulut gue yang menandakan
sebagai peringatan kepada sobat gue untuk siap melangkah lagi. Namun, terlihat
raut wajah yang ditampakan oleh sobat-sobat gue berbeda-beda. Dari raut wajah
mereka gue dapat menafsirkan klo sebagian ada yang setuju untuk melanjutkan
perjalanan dan ada juga yang malah lebih memilih untuk bertahan disini saja.
Mau tau siapa sosok orang yang pengen bertahan, yang kobarannya tak dapat
dinyalakan lagi. Dia adalah JOHAR, orang yang paling serba tau padahal
sebelumnya sama sekali gak punya pengalaman mendaki. Dialah sosok yang sedari
awal mengatur segala ritme irama langkah kaki kami semua tiba-tiba melontarkan
kata “sudah, mending kita disini saja lagian tempat ini pemandangannya juga
bagus kok”. Dari kata-kata itu gue bias menafsirkan bahwa apa yang dilontaran
bukan sekedar kata-kata tapi juga sebagai penanda bahwa bendera putihnya telah
berkibar diujung tiang asa yang artinya dia menyerah. To be Continue
#JoharLagiJoharLagi
Posted by : @EL_R
dan semenjak itu ane tanpa deklarasi tiba2 di tunjuk jadi kordinator setiap kegiaan -_-" plissss ;((
BalasHapus