Senin, 05 Mei 2014

10:20:00 PM
1

Hadeh.. Kemana aja, dengan siapa, semalam berbuat apa YOLANDAAAA...!!! Waduh kayak lagu aja. Klo gak salah lagunya Simple Plan *hening*. Rasanya udah berbulan-bulan cerita gue gak di update. Gue aja dah lupa awal ceritanya kayak apa, yang di tau cuman "absurd". #LANJUTKAN

*Cerita sebelumnya, kami yang saat itu dilanda kebimbangan dan memasang keegoisan untuk yang terdepan tan pa sempat berfikir jernih dengan kepusan yang semestinya harus diambil.


*Disuatu tempat yang disebut latar…

Dilatar ini seperti soal-soal pilihan ganda yang cuman ada dua pilihan jawaban, yang diantara kedua jawaban itu belum tentu benar ataupun salah. Nah, kenapa bisa begitu.. Misalnya saja saja kami memilih jalan yang benar (udah kayak mau tobat aja) tapi klo masih dipimpin oleh orang-orang yang seakan-akan tau jalan gue mah tetep haqul yakin endingnye tetep “SESAT”. Selang berapa lama hal yang tak diinginkan seonggok umat manusia ditempat itu pun terjadi, apa itu??? Sosok yang dicerita sebelumnye gue bilang cool (gue gak bakal sebut klo dia itu Andre), tiba-tiba naik ke atas batu ginjal wkwk.. Berpidato dengan meminjam sedikit kharisma pak Soekarno berkata “Kawan-kawan, puncak yang yang dari kemarin kita bahas sekarang ada diujung pelupuk mata ane.. Jadi bersiaplah kita mendaki jalan yang disana”, sembari menunjuk jalan setapak kecil yang menurut gue itu udeh mirip tanjakan cinta ala ranum kumbolo tapi bedanya klo di ranum kumbolo kiri-kanan banyak hamparan rumput klo yang ini malah kiri-kanan semak belukar yang kesannya malah angker. Setelah tak ada pilihan lain selain pilihannya Andre, sebab semua berkesan diatur oleh-Nya bahwa ini takdir jalan yang harus kami pilih. Pasukan kali ini dipimpin langsung oleh gue, sebab gue gak mau klo langkah kaki berkesan lamban soalnya perhitungan matahari sore sudah mulai meninggalkan kami dan udara dingin yang mulai menyusup mengharuskan kami untuk memaksakan kaki yang akan berjalan lebih jauh dari biasanya (ehh, kayak pernah tau kata-kata ini! Ahh, sudahlah). Melangkah, malangkah dan terus melangkah, itu yang terus kami lakukan sampai kami pun dapat mempertanggung jawabkan usaha kami semua dan saat itu sudah berada ditengah2 puncak gunung yang emejing beud (banget). Kita berenam yang menciptakan kobaran semangat yang kami bawa saat awal melangkah mulai agak luntur sesaat rintik hujan kembali menerpa kobaran semangat kami. Gue yang saat itupun masih berposisi memimpin kumpulan pemuda yang ngidam pengen bersahabat dengan Mahaderman memutuskan untuk beristirahat sejenak dan memikirkan langkah selanjutnya sembari menatap indahnya saat tenggelam sang surya yang sedikit tertutup awan diufuk barat seakan memberikan senyum terakhirnya dihari itu. Masih nampak dedaunan yang basah sesaat sesudah diguyur rintik gerimis tadi. YOSHHH!!!, kata itu pun tiba-tiba terlontar dari mulut gue yang menandakan sebagai peringatan kepada sobat gue untuk siap melangkah lagi. Namun, terlihat raut wajah yang ditampakan oleh sobat-sobat gue berbeda-beda. Dari raut wajah mereka gue dapat menafsirkan klo sebagian ada yang setuju untuk melanjutkan perjalanan dan ada juga yang malah lebih memilih untuk bertahan disini saja. Mau tau siapa sosok orang yang pengen bertahan, yang kobarannya tak dapat dinyalakan lagi. Dia adalah JOHAR, orang yang paling serba tau padahal sebelumnya sama sekali gak punya pengalaman mendaki. Dialah sosok yang sedari awal mengatur segala ritme irama langkah kaki kami semua tiba-tiba melontarkan kata “sudah, mending kita disini saja lagian tempat ini pemandangannya juga bagus kok”. Dari kata-kata itu gue bias menafsirkan bahwa apa yang dilontaran bukan sekedar kata-kata tapi juga sebagai penanda bahwa bendera putihnya telah berkibar diujung tiang asa yang artinya dia menyerah. To be Continue

#JoharLagiJoharLagi

Posted by : @EL_R

1 komentar:

  1. dan semenjak itu ane tanpa deklarasi tiba2 di tunjuk jadi kordinator setiap kegiaan -_-" plissss ;((

    BalasHapus